Keep Hamasah..!!

27 Jul 2012

Sejarah Tempe : Dari Bangsa Tempe Sampai Hilangnya Tempe









Tempe adalah salah satu makanan yang terbuat dari kedelai yang merupakan hasil kreasi bangsa sendiri. Di masa lalu Tempe sudah dikenal, di Jaman Majapahit Tempe sudah diyakini ada, penyebutan tempe sebagai makanan secara terang-terangan disebutkan dalam serat Centhini, jae santen tempe ( jenis masakan tempe yang dicampur santan) dan kadhele tempe srundengan. Serat centhini ditulis sekitar tahun 1805 dengan sponsor Pakubuwono V yang mengharapkan kitab ini bisa menjadi semacam ensiklopedi gaya hidup, pandangan spiritual dan tatanan dialektis masyarakat Jawa. Sebagai tambahan catatan walau ini masuk dalam referensi cerita rakyat, soal Tempe Bacem Kotagede yang terkenal sering disandingkan dengan Gudeng Manggar yang merupakan produk kuliner Ki Ageng Mangir Wonoboyo II, musuh politik Panembahan Senopati yang kepalanya dikepruk sang Panembahan setelah menghadap sebagai menantu dengan menikahi Puteri Panembahan yang pandai menari tayub, Pembayun. Dalam gudeng Manggar itu selalu ada tempe bacem Sargede (asal kata Pasar Gede, sebuah pasar di Kotagede), disini kemudian orang Bantul mengenang Gudeg Manggar sebagai satu-satunya bentuk kemenangan atas Panembahan Senopati yang bangsawan dari keturunan luar Hutan Mentaok.

Tempe menjadi makanan yang amat terkenal setelah krisis pangan pasca Perang Diponegoro, saat itu Van Den Bosch menerapkan kerja rodi, seluruh rakyat diharuskan menanam tanam-tanaman perkebunan seperti tebu dan karet, dan ini semakin merusak unsur hara tanah. Di masa ini tempe menjadi semacam makanan wajib. Rakyat yang kelaparan dan kehilangan padi-nya gara-gara harus berebutb jam kerja dengan kewajiban rodi, memakan makanan yang dihasilkan dari tanaman yang gampang tumbuh seperti : Ubi, Singkong dan Kedelai, nah kedelai ini diolah menjadi tempe, salah satu versi sejarah menyatakan bahwa tempe ditemukan pada era tanam paksa, tahun 1875 dengan meniru makanan Cina yang bernama Koji, kedelai yang difermentasikan menggunakan kapang.

Tempe menjadi penyelamat bangsa Eropa yang ditawan Jepang, saat itu Jepang masuk ke Indonesia dan mencari orang-orang Belanda untuk dimasukkan ke kamp kerja paksa dan dipenjara. Dalam penjara mereka dikasih makan tempe, ternyata tempe itu yang membuat para interniran londo itu bertahan hidup, sebab-nya tempe memiliki kandungan protein yang amat tinggi.

Menurut artikel Kompas, pada 3 Juli 2003 yang ditulis M. Astawan menyebutkan :

Indonesia merupakan negara produsen tempe terbesar di dunia dan menjadi pasar kedelai terbesar di Asia. Sebanyak 50% dari konsumsi kedelai Indonesia dilakukan dalam bentuk tempe, 40% tahu,dan 10% dalam bentuk produk lain (seperti tauco, kecap, dan lain-lain). Konsumsi tempe rata-rata per orang per tahun di Indonesia saat ini diduga sekitar 6,45 kg


Tempe merupakan industri-industri yang berkembang amat merakyat, murah harganya dan menjadi ciri khas paling dasar bangsa Indonesia, kebanyakan orang Indonesia memang suka dengan tempe. Saking merakyatnya, masakan ini pernah menjadi sangat inferior dalam kedudukan gengsi sosial bangsa kita, para priyayi bangsawan senengnya makan Beef Steak, yang diucapkannya sebagai Bestik. Sebagai gambaran tempe sebagai makanan rakyat ini terlihat sekali dalam novel Para Priyayi karangan Umar Khayam yang dirilis tahun 1994 tentang Ngadiyem yang tiap pagi ngider menjajakan tempe dan menjadi langganan keluarga Sastrodarsono. Ngadiyem ini kemudian ikut keluarga Sostrodarsono, setelah ikut dengan Sostrodarsono, Ngadiyem diperkosa oleh Soenandar yang juga kemenakan Sastrodarsono, dari Ngadiyem ini kemudian lahirlah Lantip, yang secara alam bawah sadar selalu menekankan ke-minderan-nya sebagai anak pedagang ider Tempe. “Aku tak mau menjadi kecu seperti bapakku atau pedagang ider tempe seperti ibuku”. Novel yang amat menarik ini masih menempatkan tempe sebagai makanan kelas rendahan.

Bung Karno sendiri pernah berteriak di depan ratusan ribu pendengarnya : “Janganlah kita sekali-sekali menjadi bangsa Tempe”. Disini Bung Karno bukan berteriak soal tempe sebagai makanan inferior bangsa kita, tapi sebagai ‘makanan yang diinjak-injak’. Namun bagi bagian banyak orang quotes ini dikenang sebagai ‘Rasa Inferioritas Tentang Tempe sebagai makanan”.

Lambang kemakmuran bangsa Indonesia adalah terhidangnya ayam goreng, semur daging atau ikan-ikan air tawar seperti ikan gurame dan ikan mas. Tempe dianggap sebagai bagian ‘makanan prihatin’. Tapi susah memisahkan Tempe dan juga Tahu ke dalam meja makanan orang Indonesia, kalau makan orang Indonesia itu ada empat hal : Nasi, Tempe, Tahu dan Kerupuk.

Di Jaman Orde Baru, ketersediaan pangan adalah syarat politik paling utama. Suharto bahkan sampai menyiapkan panggung teater ketersediaan pangan dengan aktor utamanya adalah Harmoko, rakyat sampai hapal setiap Rabu Malam di berita khusus TVRI setelah dunia dalam berita jam 9 malam berakhir ia selalu berkata “Atas petunjuk bapak Presiden…harga cabe keriting….bla..bla” sambil rambutnya jingkrak meninju rembulan. Saat itu bangsa Indonesia mengalami masa kepastian pangan luar biasa, jangankan soal tempe, soal cabe, soal beras saja kita berdaulat, walaupun hanya setahun yaitu tahun 1985 saat Pak Harto dengan gagah pidato di Roma, Italia pada sidang pleno FAO. Tapi dibalik kedigdayaan Pak Harto dan Politik Logistiknya dengan Pangan sebagai Panglima, dimasa itu terkenal kisah Tempe Bongkrek, tempe yang terbuat dari ampas kelapa, jenis tempe ini lebih inferior lagi ketimbang tempe biasa.

Kini Kedelai menghilang di pasaran, Tempe menjadi barang langka dan harganya naik terus seperti popularitas Jokowi, Pemerintahan Republik ala SBY yang lemahnya menyerupai Republik Weimar ini tergagap soal Tempe, mereka bersidang soal Tempe, soal yang di masa lalu sebagai makanan inferior kini menjadi soal yang sulit bagi Pemerintahan dengan Pencitraan sebagai Panglima. -Maka Tempe sudah menjadi semacam SOB, semacam Staat van Oorlog en Beleg, negara bersiap perang atas kedaulatan Pangan kita. Entahlah mungkin nanti akan ada bibit kedelai Supertoy, kan Presiden kita doktor IPB….katanya….



belum ada ya yang melihat lagi letter of intent imf tahun 98. Liat dan baca lagi deh. Ada soal tariff o percent buat kedelai. ini membaut petani kedelai indonesia akhirnya menghadapi banjir kedelai import yang di subsidi.

"The government intends to phase out import and marketing monopolies and price controls on agricultural commodities except for rice, sugar, and cloves over the next three years. As a first step, on November 3, 1997, wheat and wheat flour, soybeans and garlic were made freely importable. In order to alleviate the burden of adjustment on the part of the affected parties, import tariffs will be applied to soybeans and dried garlic (20 percent) and wheat flour (10 percent) and will be reduced to 5 percent by 2003. Price controls on cement will be eliminated effective November 3, 1997."

Semuanya itu berasal dari situ. Sebelumnya kita import HANYA 30 percent. Dengan di bebaskannya import kedelai masuk dengan harga murah di dan disubsidi maka kedelai kita yang disuruh TIDAK BOLEH BERSUBSIDI harus berhadapan dengan kedelai BERSUBSIDI lewat TARIIF yang DI NOLkan tahun 97 itu.

12 Jun 2012








Ini adalah kunjungan lapangan pertama saya sebagai mahasiswa Mesin, dan Alhamdulillah, kunjungan pertama itu begitu luar biasa berkesan karena tempat yang dikunjungi adalah world class geothermal powerplant sekaligus salah satu pusat listrik tenaga panas bumi terbesar di indonesia, pltp Gunung Salak, Sukabumi Jawa Barat. Di mata saya, Gunung Salak memang begitu mempesona layaknya mojang bandung... halah... terletak di pegunungan di daerah Sukabumi, dengan udara yang sejuk dan pemandangan khas pegunungan yang hijau lagi terasing*, siapa pun mungkin tak menyangka bahwa di sana terdapat pusat listrik sebesar itu. memang sih, dari bawah sudah kelihatan menara-menara saluran transmisi 150 kV berseliweran menyusuri pegunungan**.
*)namun, setelah PLTP Gunung Salak dibangun, sebagai bentukcorporate social responsibility dari Indonesia Power dan Pertamina serta Chevron sebagai pengembang usaha di PLTP di Gunung Salak, daerah pegunungan itu menjadi tidak terasing lagi... ada menara BTS, jalan beraspal, pokoknya sip lah...
**)inilah salah satu alasan perlunya saluran transmisi ketika suatu pusat listrik terletak jauh dari beban (konsumen). mengapa pltp biasanya terletak jauh dari beban? karena "bahan bakar" pltp (panas bumi) tidak bisa dikirim terlalu jauh dari sumbernya, sehingga pltp harus mengalah dan mendekat ke sumber panas bumi tersebut, yang kebanyakan adalah kawah pegunungan, bukannya mendekat ke baban di kota.

ya, kita bersyukur bahwa potensi panas bumi kita sungguh melimpah, konon katanya, total potensi mencapai 33 GW, dan baru 1 GW yang termanfaatkan***. panas bumi memang bisa diakses dari mana saja, dari kutub utara atau selatan pun tetap bisa, asalkan kita bisa mengebor kulit bumi sedalam yang kita butuhkan untuk bisa mengakses panas bumi tersebut. beruntungnya kita, indonesia terletak di dalam ring of fire sehingga kita dimudahkan untuk mengakses energi panas bumi ini dari kawah-kawah di gunung-gunung. PLTP Gunung Salak sendiri terdiri dari beberapa subunit: Gunung Salak, Kamojang, dan Darajat. semuanya di pegunungan. yang saya kunjungi adalah subunit kamojang. di sana ada 3 generator milik Indonesia Power, 1x30 MW dan 2x55 MW. juga ada generator lain milik Pertamina, Chevron (swasta asing), tetapi saya tidak berkesempatan mengunjunginya. selain itu, saya juga berkesempatan melihat dari dekat gardu induk kamojang, mengamati betapa besarnya transformator di gardu induk, mendengarkan suara dengunan generator dan transformator. sungguh pengalaman baru exciting dan mengasyikkan.
***)lihat di sini

tidak semua potensi panas bumi di Gunung Salak dimanfaatkan sebagai "bahan bakar" pada PLTP ini karena uap basah (Dry Steam)  sebagai perwujudan energi panas bumi di kamojang, tidak semuanya memenuhi kualitas yang dibutuhkan**** untuk memutar generator dan membangkitkan listrik. oleh karena itu, beberapa kawah alami dan kawah buatan di Gunung Salak yang "tidak memenuhi syarat" seperti itu dijadikan objek wisata sekadar untuk memberi tahu kepada pengunjung bahwa sumber panas bumi kamojang memang benar-benar panas... jadi jangan main-main. sungai yang mengeluarakan asap, kubangan air yang mengeluarkan asap... jangan diobok-obok... bisa-bisa tangan atau kakimu melepuh. bahkan air untuk wudhu pun jadi hangat, padahal waktu itu udara pegunungan cukup dingin.
****)seperti tekanan, suhu, kandungan kimia, dsb.



PTLP ini berada di Taman Nasional Gunung Halimun Salak berlokasi di perbatasan kabupaten Sukabumi dan kabupaten Bogor. Dan apakah Anda tahu bahwa PTLP ini adalah pembangkit listrik tenaga panas bumi terbesar di dunia dan dibawah perusahaan energi terbesar di dunia pula? Ya..Indonesia yang diberikan kekayaan kandungan alam yang beraneka ragam yang salah satunya kandungan panas bumi memiliki fasilitas pembangkit listrik ini di area taman nasional gunung Salak Jawa Barat. PLTP yang berlokasi kira-kira 1400 meter dpl ini memiliki kapasitas sampai 377 MW dan memberikan pasokan listrik ke jaringan jawa bali. Di site ini memiliki 6 unit turbin uap dan beroperasi 24 jam sehari dan 7 hari seminggu.
Lantas bagaimana rute jalan ke sana ya? Jika Anda dari Jakarta atau Bogor – maka jalannya adalah ke arah Ciawi dulu. Kalau dari Bandung maka jalannya ke arah Sukabumi.
Nah yang sekarang mau diarahkan kalau Anda dari Ciawi. Jika sudah sampai Ciawi maka ikuti jalan utama Jalan Ciawi – Sukabumi (Jl Siliwangi). Jalan ini cukup pas untuk dilalui 2 mobil dan jalan ini cukup padat aktifitasnya karena banyak truk kapasitas besar berlalu lalang di sini. Beberapa pabrik besar juga berada di jalan Ciawi-Sukabumi sehingga tidak heran lalu lintas kadang suka sangat lambat dan juga malah macet. Dari jalan ini kira kira 1 jam perjalanan Anda akan sampai Jl Parung Kuda dan pastikan Anda jangan kebablasan ke Sukabumi, kiri jalan nanti ada tanda panah ke kanan utk menuju taman nasional Gunung Halimun Salak yang berjarak 30 km dari jalan utama ini ke atas. Mulai masuk jalan ke arah gunung salak, jalan semakin kecil dan jika berpapasan sesama mobil pastikan untuk mengurangi kecepatan. Salah2 spion kita bisa nampar spion mobil orang :) . Melewati jalan ini cukup berkecepatan 30-40 km/jam saja. Jalur ini banyak orang bersepada motor sehingga harus berhati hati sekali. Kira kiar setelah 45 menit perjalanan – Anda akan sampai Kampung Jayanegara. Ini adalah kampung terakhir yang Anda temui sebelum Anda naik lagi ke Gate PLTP Salak melalui perkebunan teh menghampar sejauh mata memandang. Dan kira kira 15 menit kemudian Anda akan sampai ke gerbang PLTP Gunung Salak. Jalur Alternatif ke PLTP bisa juga dari arah Cikidang yang masuk dari Jl utama Ciawi-Sukabumi juga atau dari arah Cianteun yang masuk dari dari arah kabupaten Bogor, namun jalur ini tidak recommended karena selain jalannya rusak juga bukan jalur umum. Jadi lebih baik Anda lewat jalan dari parung kuda atau Cikidang.


Sesampainya di Pos 01 PLTP Gunung Salak, Anda akan diminta untuk menulis identitas Anda dan tujuan Anda masuk ke site. Jika Anda adalah tamu undangan, well it is so easy lah tentunya tinggal masuk dan dapat langsung ke power plantnya di Power Generation Facility (PGF) yang masih kira2 4 km ke atas.
Yang perlu diperhatikan untuk keamanan dan kenyamanan Anda selama di site PLTP Gunung Salak adalah sbb:
  • Jangan menganggu flora fauna di dalam taman nasional,
  • Pastikan Anda didampingi oleh Host selama di dalam site
  • Tidak diperkenankan mengambil foto dan video
  • Patuhi rambu rambu keamanan yang ada dan terpasang
  • Waspada terhadap kondisi site seperti uap panas dari process panas bumi dan gas-gas putih yang pada lokasi tertentu dapat mengandung gas beracun. Jadi sebaiknya Anda selalu berada di area aman sesuai tanda-tanda.
  • Waspada terhadap kemungkinan serangan lebah. Anda akan diberikan bee net untuk keamanan Anda. Mungkin Anda perlu tahu dulu bagaimana tindakan jika ada lebah di dekat Anda yaitu pastikan Anda tenang, diam dan masukkan tangan Anda ke dalam saku sampai lebah pergi lagi. Tips: Selama di site jangan memakai wangi2an yang dapat menarik lebah ke arah Anda.
Selamat Datang di Gunung Halimun Salak.