Keep Hamasah..!!

16 Mei 2012

Adab Menasihati


Nasihat dan Prasangka
Nasihat-menasihati merupakan salah satu kebiasaan orang muslim, yang belum terbiasa hendaknya mulai dibiasakan. Menasihati juga ada aturan mainnya, tidak serampangan yang bisa melukai hati orang lain. Dalam surah favorit saya dan favorit anak SD atau TK, bahwa jika tidak mau rugi maka hendaknya kita saling menasihati.
Kita simak perkataan ulama berikut, Aku tidak pernah menyesali apa yang tidak aku ucapkan, namun aku sering sekali menyesali perkataan yang aku ucapkan. Ketahuilah, lisan yang nista lebih membahayakan pemiliknya daripada membahayakan orang lain yang menjadi korbannya (mengutip perkataan, Dr. Aidh Bin Abdullah Al-Qarni, MA.).
Kita sering mendengar lidah tidak bertulang, sehingga yang dikatakan cenderung tidak mencari tegakan apa yang dikatakannya.
Perhatikan sabda Rasulullah SAW berikut ini: ”Aku peringatkan kepada kalian tentang prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah perkataan yang paling bohong, dan janganlah kalian berusaha untuk mendapatkan informasi tentang kejelekan dan mencari-cari kesalahan orang lain, jangan pula saling dengki, saling benci, saling memusuhi, jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara” (H.R Bukhari, no (6064) dan Muslim, no (2563).
Berprasangka boleh dan tidak dilarang, asalkan berprasangka yang baik-baik. Sehingga untuk mencari kebenaran dari prasangka itu tentunya kita harus mencari tahu dari sumber aslinya, jangan mudah terpancing perkataan orang lain atau media. Meskipun banyak sekarang yang mudah percaya media dari pada teman karibnya sendiri. Islam mengajarkan tabayun (cross-check langsung) dalam mencari kebenaran berita.
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al Hujuraat [49]: 12)
“Tahukah kalian apa itu ghibah? Jawab para sahabat: Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui. Maka kata Nabi SAW: “Engkau membicarakan saudaramu tentang apa yang tidak disukainya. Kata para sahabat: Bagaimana jika pada diri saudara kami itu benar ada hal yang dibicarakan itu? Jawab Nabi SAW: Jika apa yang kamu bicarakan benar-benar ada padanya maka kamu telah mengghibah-nya, dan jika apa yang kamu bicarakan tidak ada padanya maka kamu telah membuat kedustaan atasnya.”(HR Muslim/2589, Abu Daud 4874, Tirmidzi 1935)
Abdullah bin Umar RA menyampaikan hadits yang sama, ia berkata, suatu hari Rasulullah SAW naik ke atas mimbar, lalu menyeru dengan suara yang tinggi: Wahai sekalian orang yang mengaku berislam dengan lisannya dan iman itu belum sampai ke dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, janganlah menjelekkan mereka, jangan mencari cari aurat mereka. Karena orang yang suka mencari cari aurat saudaranya sesama muslim, Allah akan mencari cari auratnya. Dan siapa yang dicari cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya walau ia berada di tengah tempat tinggalnya.”” (HR. At Tirmidzi no. 2032, HR. Ahmad 4/420. 421, 424 dan Abu Dawud no. 4880. Hadits shahih). Yang dimaksud dengan aurat di sini adalah aib/cela atau cacat, kejelekan dan kesalahan. Dilarang mencari cari kejelekan/kesalahan seorang muslim untuk kemudian diungkapkan kepada manusia – tuhfatul Ahwadzi).


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/05/20306/adab-menasihati-bagian-ke-1/#ixzz1v5dfs4tA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar